Judul : MENARUH DENDAM
Baca : #/TB Kej 27:35-41*
Nats : Janganlah engkau … menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (#/TB Im 19:18*)
Penulis esai dan kritikus Inggris, Charles Lamb (1775-1834) berkata demikian tentang seseorang yang tidak ingin ditemuinya: “Jangan perkenalkan orang itu kepada saya! Saya ingin terus membencinya, dan saya tidak dapat membenci seseorang yang saya kenal.”
Kebencian yang dipendam dapat merusak hubungan yang erat dengan orang lain. Yakub menipu kakaknya dan mencuri hak kesulungannya, sehingga dapat dimengerti jika Esau marah. Namun apa yang dilakukan Esau terhadap kemarahannya menjadi masalah yang serius, tidak hanya bagi Yakub, tetapi juga bagi Esau sendiri. Selama bertahun-tahun Esau menyimpan kebencian mendalam, yang merusak hubungan hangatnya dengan sang adik.
Dendam juga dapat menciptakan suasana yang dingin dan beku di dalam gereja, dan hal ini acap kali membuat orang-orang menjauhkan diri. Pendeta George Gardiner bertanya kepada anggota sebuah jemaat yang ia kunjungi, mengapa gereja mereka tidak berkembang. Ia menerima jawaban berikut, “Ada seorang penatua di gereja ini yang menyimpan dendam.”
Daripada menyimpan dendam, lebih baik kita menyingkapkannya di hadapan Allah dalam pengakuan dosa dan memohon kelepasan. Kita harus mulai berdoa bagi orang yang kita benci dan, jika memungkinkan, mengambil langkah-langkah praktis untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita. Kita harus mencari jalan untuk menunjukkan kasih.
Kebencian akan lenyap jika sasaran dari niat jahat kita menjadi sasaran istimewa dari niat baik kita — Dennis De Haan
DENDAM ADALAH SALAH SATU HAL YANG TIDAK MENJADI LEBIH BAIK JIKA DIPELIHARA
Selasa, 06 November 2012
Jumat, 02 November 2012
renungan malam
Judul : GERAK DI TEMPAT
Baca : #/TB Ams 26:13-16*
Nats : Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya (#/TB Ams 26:14*)
Seperti apakah si pemalas? Ia diumpamakan sebagai daun pintu yang berputar hanya pada engselnya, bergerak tetapi tidak berjalan alias "gerak di tempat". Serupa pula dengan kursi goyang, orang yang duduk di atasnya bisa merasa seakan-akan sudah mencapai jarak yang jauh, padahal ia tak ke mana-mana. Tidak heran bila kursi goyang disebut juga "kursi malas".
Allah tidak senang kepada orang yang malas. Bacaan Alkitab kita menuntun pada pengertian siapakah orang yang malas itu. Si pemalas adalah orang yang bila diberi tugas suka berdalih (#/TB Ams 26:13*). Si pemalas adalah orang yang tak mau bergerak maju sekalipun sudah didorong oleh orang lain (ayat #/TB Ams 26:16*). Si pemalas adalah orang yang bahkan malas melakukan sesuatu yang sesungguhnya bermanfaat bagi dirinya sendiri (ayat #/TB Ams 26:15*). Seperti seseorang yang malas makan mangga, kecuali orang lain mengupaskan kulitnya.
Bagaimana caranya agar kita tidak menjadi malas? Milikilah tujuan hidup yang jelas, sehingga kita punya semangat untuk memaknai hari-hari kita. Milikilah motivasi yang tulus, supaya kita dapat merasakan sukacita saat hendak mencapai tujuan. Milikilah perencanaan yang benar, agar kita menjadi orang-orang yang bijaksana karena tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Mari menjadi anak-anak Tuhan yang rajin dan penuh semangat dalam hidup ini, seperti apa yang telah Paulus lakukan, "Aku … berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (#/TB Fili 3:14*). Selamat tinggal kemalasan! — ACH
DARI SETIAP NAMA ORANG YANG DAPAT KITA SEBUT BERHASIL TAK ADA YANG BERANGKAT DARI HIDUP YANG MALAS
Baca : #/TB Ams 26:13-16*
Nats : Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya (#/TB Ams 26:14*)
Seperti apakah si pemalas? Ia diumpamakan sebagai daun pintu yang berputar hanya pada engselnya, bergerak tetapi tidak berjalan alias "gerak di tempat". Serupa pula dengan kursi goyang, orang yang duduk di atasnya bisa merasa seakan-akan sudah mencapai jarak yang jauh, padahal ia tak ke mana-mana. Tidak heran bila kursi goyang disebut juga "kursi malas".
Allah tidak senang kepada orang yang malas. Bacaan Alkitab kita menuntun pada pengertian siapakah orang yang malas itu. Si pemalas adalah orang yang bila diberi tugas suka berdalih (#/TB Ams 26:13*). Si pemalas adalah orang yang tak mau bergerak maju sekalipun sudah didorong oleh orang lain (ayat #/TB Ams 26:16*). Si pemalas adalah orang yang bahkan malas melakukan sesuatu yang sesungguhnya bermanfaat bagi dirinya sendiri (ayat #/TB Ams 26:15*). Seperti seseorang yang malas makan mangga, kecuali orang lain mengupaskan kulitnya.
Bagaimana caranya agar kita tidak menjadi malas? Milikilah tujuan hidup yang jelas, sehingga kita punya semangat untuk memaknai hari-hari kita. Milikilah motivasi yang tulus, supaya kita dapat merasakan sukacita saat hendak mencapai tujuan. Milikilah perencanaan yang benar, agar kita menjadi orang-orang yang bijaksana karena tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Mari menjadi anak-anak Tuhan yang rajin dan penuh semangat dalam hidup ini, seperti apa yang telah Paulus lakukan, "Aku … berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (#/TB Fili 3:14*). Selamat tinggal kemalasan! — ACH
DARI SETIAP NAMA ORANG YANG DAPAT KITA SEBUT BERHASIL TAK ADA YANG BERANGKAT DARI HIDUP YANG MALAS
Tuhan Yesus Sahabatku
Tuhan
Yesus Sahabatku
Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor
Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah
yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak
kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.
Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah
ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.
“Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”
“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang
menyentuh hati Pendeta tersebut.
Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari
dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian,
setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan
memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”
“Terima kasih, Bapa Pendeta.”
“Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di
Gereja setelah pulang sekolah?”
“Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”
Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan
waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi
di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di
Surga.
“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk,
tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue
dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya
kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.
Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan
tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak
apa-apa..
paling
tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.
paling
tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.
Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang
menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya
seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.
Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada
seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau,
apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau
tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk
menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau
gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini
kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.”
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.”
Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .
“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan
sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!”
Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah
absen sekalipun.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya
setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan
yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.
Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak
bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan
kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala
sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.
Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut
usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..”
“Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami
sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!”
Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta
Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu
menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga
harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah
untukNya..”
Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya,
seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar
Gereja.
“Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!”
Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi
jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang,
tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang
tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya,
sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk
menghindar.dan Andy pun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan
mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.
Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah
putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata datang dan
memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.
Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang
malang ini? Apakah anda mengenalnya?”
Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena
penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang
dikatakan.
Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah
malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi
tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada
disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..
Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.
Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria
misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua
Andy.
“Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?”
“Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap
ibu Andy terisak.
“Apa katanya?”
Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia
sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas
meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada
suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan
anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan
memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.
“Apa yang dikatakan?”
“Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih
buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.
Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes
dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada
siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”
Sumber: Tidak diketahui
Langganan:
Postingan (Atom)